Kamis, 5 April 2012

15.40

Selepas Ashar, saya berangkat menuju Terminal Rawamangun.

Rest Area – Grogol (Rp 2500). Grogol – P. Gadung (Rp 2.500). Busway Rawa Selatan – Pulomas (Rp 3.500). Ojek Pulomas – T. Rawamangun (Rp 15.000)

18.40

Tiba di Terminal Rawamangun. Terminal sesak oleh orang2 yg berniat utk mengisi liburan diluar Jakarta. Setelah berputar-putar akhirnya ktemu juga teman perjalanan saya. Pepeng dan Ita. Tak lama kemudian akhirnya Ndic (TS trip kali ini) tiba. Dan setelah Gusti datang, kamipun mulai memasukan bawaan kami ke dalam bagasi dan naik ke dlm bis.

19.35

Tapi Rani, anggota terakhir tim kami masih dalam perjalanan. Sementara penumpang lain mulai kesal dan tak sabar menunggu. Akhirnya bis Sinar Jaya Ekonomi ini (Rp 60.000) berangkat meninggalkan terminal dan Rani akan naik di halte Pedati menjelang pintu Tol

Jum’at, 6 April 2012

01.15

Istirahat di RM di Indramayu. Pop Mie (Rp 6.000)

05.30

Macet di Tonjong

08.30

Lepas dari kemacetan

13.00

Tiba di Terminal Wonosobo. Nasi Bungkus, dll (Rp 10.000)

14.00

Menuju Dusun Garung. Iuran Konsumsi + Angkot + SIMAKSI (Rp 20.000). Carter Angkot (Rp 70.000/9 org)

15.30

Trekking dimulai

18.10

Tiba di Pos I

21.00

Tiba di Pos II

22.30

Ngecamp

Sabtu, 7 April 2012

03.30

Persiapan Summit Attack

04.00

Summit Attack

04.45

Tiba di PESTAN

06.00

Tiba di Ps. Watu

07.30

Tiba di Watu Kotak

09.00

Tiba di Tanah Putih

10.00

Puncak Buntu

10.45

Turun

15.30

Tiba di Tenda

16.30

Turun

18.00

Tiba di Pos II

22.00

Tiba di Pos I

Minggu, 8 April

00.10

Tiba di Basecamp

01.30

Istirahat

06.00

Bangun. Sarapan Nasi Goreng (Rp 6.000)

08.30

Menuju Wonosobo (Rp 4.000)

09.00

Tiba di Terminal Wonosobo. Pesan Tiket Sinar Jaya (DMI) AC (Rp 75.000)

09.30

Mie Ongklok Longkrang

10.30

Alun-Alun Wonosobo

14.00

Ayam Bakar Taliwang Citos (Rp 15.000)

16.30

Menuju Kp. Rambutan

Senin, 9 April 2012

07.00

Tiba di Terminal Kp. Rambutan. Rambutan – Tangerang (Rp. 8500). Angkot (Rp 3.500).

09.00

Tiba di Rumah

Gunung Lawu (3.265 m) terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Legenda gunung Lawu

Di akhir masa kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dari istrinya Dara Petak putri dari daratan Tiongkok lahir putra Raden Fatah. Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).

Melihat kondisi itu, masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Hargo Dalem, dan Sabdopalon moksa di Hargo Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Jalur Cemoro Sewu

Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih terjal akan tetapi lebih cepat sampai dipuncak daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah tertata rapi.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos 4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat Telaga Sarangan dari kejauhan.

Jum’at, 20 Januari 2012

18.00

Dari rest area dekat rumah, saya menumpang bis jurusan Blok M untuk turun di Slipi (Rp 5.500). Jalan yang  padat merayap di gerbang Tol karang Tengah dan Kebon Jeruk membuat hati cemas takut ketinggalan kereta yg berangkat jam setengah 8.

19.05

Baru turun dari flyover Tomang kondisi jalan sudah macet parah sehingga saya memutuskan turun dan berjalan kaki ke depan Slipi Jaya. Tak ingin ketinggalan kereta saya pun naik ojek menuju Stasiun Tanah Abang (Rp 19.000). Sebelum masuk ke dalam stasiun saya membeli minum dahulu sambil menukar uang untuk membayar ojek (Rp 6.000).

19.25

Di samping Ka Bengawan: afri, teguh dan bowo sudah menunggu, dan kamipun segera menuju tempat duduk kami digerbong tujuh. (Tiket sudah dibeli dahulu seminggu sebelumnya oleh afri Rp 37.000)

19.50

Telat 10 menit dari jadwal, akhirnya Ka. Bengawan berangkat meninggalkan stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Solo Jebres. Di Stasiun Cirebon perut mulai menagih minta diisi. (Nasi goreng Rp 3.000)

Sabtu, 21 Januari 2012

08.00

Setibanya di Solo Jebres, kami sarapan soto kwali didepan stasiun (Nasi Soto + tahu tempe + es teh manis Rp 7.000).

08.30

Naek bis kecil ke UNS (Rp 2.500)

09.00

Naek bis PO. Langsung Jaya ke Tawang Mangu (Rp 10.000)

10.30

Belanja di supermarket Tawang Mangu (logistik team Rp 17.500 + pribadi Rp 4.500)

11.00

Naek L300 menuju Cemoro Sewu (Rp 7.000)

11.30

Packing + belanja logistik pribadi tambahan (Rp 10.000)

12.30

Registrasi (Rp 5.000). Menuju Pos I

13.05

Tiba di Sendang Panguripan

13.15

Tiba di Pos I. Istirahat 15 menit

Menuju Pos II

14.30

Tiba di Pos II

14.45

Menuju Pos III

15.30

Hujan turun

16.10

Tiba di Pos III

16.30

Menuju Pos IV. Afri dan Teguh jalan duluan. Sementara saya menemani Bowo yang sering keram betisnya menembus hujan yang semakin lama semakin lebat. Ketika vegetasi tanaman semakin pendek angin kencang pun mulai menghantam kami.

Berkali-kali bowo tampak kerepotan karena angin membuat ponco yg ia pakai menghalangi jalan dan pandangan matanya. Ditambah kakinya yang sudah sangat kelelahan membuat kami ketinggalan jauh dibelakang.

17.45

Hari mulai gelap dan hujan masih tetap deras mengguyur. Setelah menyiapkan senter kami terus berjalan pelan menuju pos IV.

18.00

Akhirnya kami tiba juga di Pos IV. Namun tak tampak afri dan teguh disini. Tampaknya mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan karena tidak ada pondok untuk berlindung dari hujan. Bowo yang sudah kedinginan pun mulai mengenakan jaketnya. Tanpa terasa karena mengganti pakaian ditengah hujan deras, ia pun tak sadar ketika jam tangannya ternyata terlepas. Hal ini baru kami ketahui ketika sampai di pos V.

Setelah siap kamipun melanjutkan perjalanan. 5 menit berjalan akhirnya kami bertemu dengan afri dan teguh. Ternyata mereka telah lama tiba di pos V, namun karena kedinginan mereka memutuskan untuk turun menjemput kami. (Di pos V juga tidak ada pondok untuk berlindung)

18.30

Tiba di pos V. Dengan tangan gemetar kedinginan kami mendirikan tenda masih dibawah guyuran hujan. Setelah tenda berdiri kamipun bergiliran mengganti pakaian basah.

19.00

Selesai berganti kostum ke pakaian yang lebih hangat kami pun mulai menyiapkan makan malam sekedarnya. Mie rebus, susu hangat dan roti tawar menjadi menu makan malam kami saat itu.

20.00

Istirahat. Seperti sarden kami berempat berbaring berdempetan ditenda kecil yang idealnya hanya cukup dipakai bertiga ini. Keril yang basah kami taruh diluar ditutupi jas hujan dan ponco. Sementara kantong pakaian kering menjadi alas pengganjal kepala.

Berkali-kali saya terbangun, tanpa sarung tangan dan tidur menempel pada dinding tenda yg basah membuat saya tidur tak nyenyak menahan dingin. Walau hujan telah berhenti namun angin masih terus berderu kencang.

Minggu, 22 Januari 2012

03.00

Dalam keadaan terjaga kedinginan, saya mendengar suara2 yang semakin mendekat. Rupanya ada rombongan pendaki yang baru sampai di Pos V ini. Karena kabut tebal dan jalan yang kurang jelas mereka pun menanyakan arah kepada kami. Saya pun menyahut tidak tahu, karena ini juga baru pertama kali kami kesini.

Setelah beberapa kali mencoba beberapa jalur akhirnya mereka kembali ke pos V dan berlindung disemak-semak karena mereka tak membawa tenda.

04.00

Saya membangunkan yang lain dan mulai menyiapkan sarapan untuk bekal tenaga muncak nanti. Mie goreng plus sarden, kopi hangat dan roti tawar.

05.30

Setelah perut telah diisi saya pun keluar tenda. Pagi telah datang menyinari lereng lawu. Perlahan kabut mulai tersingkap dibeberapa tempat, memberikan view peradaban jauh dibawah sana. Tapi matahari tetap bersembunyi dibalik awan sehingga puncak masih tetap tertutupi kabut.

06.30

Selesai packing kamipun melanjutkan perjalanan. Kini kabut hampir seluruhnya menghilang tapi angin kencang masih terus menemani.

setelah menuruni lembah dan sampai di puncak punggungan sampailah kami di Sendang Drajat. Ternyata tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Sambil mengisi perbekalan minum kami mengobrol dengan rombongan semalam. Ternyata mereka telah sampai ditempat ini, tapi gelap dan kabut tebal membuat sendang drajat yang berada dibawah tak tampak oleh mereka sehingga mereka memutuskan kembali ke pos V.

Di sekitar sendang drajat ada beberapa gua kecil yang bisa dimanfaatkan untuk tempat berteduh bila tidak membawa tenda.

06.45

Setelah siap, kami pun melanjutkan perjalanan melipir punggungan bukit. Kami berjalan duluan meninggalkan rombongan dari Purworejo yang masih bersiap-siap. Puncak Hargo Dumilah mulai tampak didepan sana. Dibawah jalur pendakian ke puncak kami berpapasan dengan lelaki tua yang tampaknya baru saja muncak solo pagi itu.

Tak ingin terburu buru ke puncak saya memutuskan untuk bergerak ke kanan dahulu menuju Hargo Dalem. Menyusuri lereng dengan jalan mendatar sampailah kami di beberapa bangunan yang dijadikan tempat petilesan, juga warung Mbok Yem yang terkenal itu.

Tapi karena musim badai seperti sekarang ini warung ini pun tutup. Hanya ada ayam-ayamnya yang berkeliaran disekitar pondok.

Di Hargo Dalem akhirnya kami melihat papan menunjuk yang mengarah ke dua jalur lain selain jalur resmi Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang. Yaitu jalur Candi Cetho dan Jogorogo. Kami berencana untuk turun melalui jalur Cetho yang katanya mempunyai view terbagus.

07.10

Setelah foto-foto kamipun mulai mendaki menuju puncak. Dari samping kiri warung Mbok Yem, dengan keril menggantung dipunggung, kami beringsut pelan melintasi jalur air yang dijadikan jalur pendakian ke puncak. Setelah kurang lebih 20 menit mendaki akhirnya tiba di Puncak Hargo Dumilah.

07.30

Di puncak kami bertemu kembali dengan rombongan dari Purworejo tadi. Mereka lebih dahulu sampai dipuncak karena langsung mengambil jalur puncak tanpa memutar dahulu ke Hargo Dalem. Walau matahari tak bersinar langsung tapi cuaca terbilang cukup cerah dimusim badai ini. Tampak gunung Arjuno dan Welirang di sebelah timur laut. Merapi dan Merbabu di barat laut.

Setelah foto-foto dan menikmati view kamipun berpisah dengan rombongan purworejo. Dengan rencana turun melalui cetho kami kembali turun ke Hargo Dalem sementara mereka kembali lagi ke Sendang Drajat.

08.30

Di Hargo Dalem kami bertemu dengan seorang lelaki tua yang tampaknya baru saja bangun. Tampangnya yang kurang ramah membuat saya sungkan untuk bertanya lebih detil mengenai jalur turun ke Candi Cetho. Hal yang sangat saya sesali selanjutnya -__-.

Tak jauh dari Hargo Dalem kami tiba di gundukan batu2 besar yang berserakan. Kami terus saja berjalan lurus menuju Menara BTS yang tampak didepan sana. Padahal untuk menuju jalur cetho seharusnya berbelok ditempat ini. Tapi karena tak ada penunjuk arah kamipun salah mengambil jalan.

Melintasi sabana edelweis kami melewati 2 buah kolam kecil berair jernih. Setelah meneguk sedikit airnya yang segar kamipun terus bergerak menuju menara.

Dari kejauhan, didekat puncak menara tampak terpal biru yang kami kira tenda atau pondok. Kami berencana hendak menanyakan jalur turun pada orang diatas sana.

09.00

Setelah mendaki sedikit jalur terjal dengan jurang disebelah kiri akhirnya kami tiba di Puncak Menara BTS.

Terpal biru yang tampak dari bawah tadi ternyata atap sebuah pondok kecil tempat menaruh sesaji. Namun tak ada seorangpun disitu -__-.

Setelah mengambil nafas 10 menit kemi mengambil jalan turun di belakang menara. Setelah beberapa kali orientasi medan karena jalur yang kurang jelas akhirnya kami menemukan jalur menurun yang ditandai tali biru yang terikat di dahan. Kami berjalan santai karena mengira kami telah menemukan jalan yang benar.

09.30

Sampai di bawah kami menemukan jalan bercabang. Sebelah kiri tampak jalur menurun landai tapi tampaknya akhirnya menuju jurang. Sebelah kanan langsung menuju jurang. Sementara lurus tampak jalur yang lebih jelas tapi kami harus mendaki lagi.

5 menit mendaki kami sudah ngos-ngosan. Dari atas sini jalur sebelah kiri yang tadinya kurang jelas tampak semakin jelas. Saya dan afri pun memutuskan untuk orientasi medan lagi. Kami melepas keril dan berjalan mendaki ke puncak bukit sementara Teguh dan Bowo beristirahat.

Walau tanpa keril cukup membuat nafas saya terengah-engah untuk menuju puncak bukit ini. Disini ada sebuah pondok kecil tempat menaruh sesaji dan pondok seng didepannya yang tampaknya biasa digunakan untuk menginap. Setelah berkeliling sekitar pondok ternyata tak ada penunjuk arah jalur, yang ada hanya sebuah kolam kering. Dan stiker sebuah sekolah yang menempel dipohon. Karena tak menemukan jalur kamipun kembali turun ketempat kami meninggalkan keril.

10.30

kembali di persimpangan, kali ini kami mengambil jalur kiri menurun menyusuri jalur rerumputan. Tak beberapa lama kemi menemukan sebuah pondok sesajian yang atapnya telah terlepas. Namun sesudah pondok jalur semakin tidak jelas dan rerumputan semakin tinggi. Didepan kiri kami bertemu dengan pepohonan rapat yang mengapit sebuah jurang yang lumayan dalam. Kami masih mencoba turun sedikit sambil melipir  kekanan mencoba mencari jalan atau tanda 2 penunjuk arah.

15 menit mencari arah dan orientasi medan akhirnya kamipun menyerah. Tak mau mengambil resiko nyasar lebih jauh kamipun memutuskan untuk kembali lagi ke Puncak Menara. Namun untuk kembali ke menara jalurnya cukup terjal, sementara tenaga kami sudah terkuras habis.

12.00

Setelah berulang kali beristirahat, akhirnya kami sampai juga dipuncak Menara. Kini kami sudah terasa lebih lega. Karena jalur tidak lagi menanjak. Sampai di tengah Sabana, kabut yang tadinya menutupi sebagian pemandangan puncak mulai menghilang. Dan kemudian cuaca menjadi sangat cerah.

Mentari yang bersinar terang, angin yang berhembus pelan menggoyang rerumputan sabana tampak indah sekali disekeliling kami. Dan kamipun tak lagi menyesali perjalanan nyasar tadi. Karena bila tak kembali lagi kesini belum tentu kami akan bertemu dengan view indah dalam cuaca cerah seperti ini.

01.00

Di Hargo Dalem kami kembali bertemu dengan lelaki tua tadi. Setelah cerita bahwa kami sempat nyasar tadi ia berubah lebih ramah dan tampaknya sedikit menyesali tidak memberikan kami petunjuk yang lebih jelas tadi. Pak Kelik yang katanya menjadi tenaga sukarela sementara untuk menjadi penjaga Hargo Dalem itu menawarkan kami untuk menginap di Pondok2 beratap seng yang ada disamping Pondok Hargo Dalem bila kami kembali lagi ke sini kelak.

Setelah berpamitan dengan beliau, kamipun kembali ke Sendang Drajat untuk istirahat dan makan siang.

01.20

Sampai Sendang Drajat ternyata tidak ada seorangpun disitu. Kami pun memilih untuk beristirahat didalam gua. Saya dan Bowo yang paling kelelahan beristirahat mengumpulkan tenaga, sementara afri dan teguh yang masih cukup kuat pun memasak makan siang kami. Nasi sarden, mie rebus, mie goreng serta kopi hangat akhirnya berhasil mengembalikan tenaga kami. Sewaktu makan ada rombongan lain yang datang. Ternyata rombongan dari Yogya yang kami temui di pos III kemarin berencana untuk nge-camp disini.

02.10

Selesai packing kamipun mulai beranjak turun. Cuaca sangat cerah. Telaga sarangan tampak indah dibawah sana. Diperjalanan turun ini kami bertemu banyak rombongan yang hendak ke puncak.

Pos V dan Pos IV kami lewati begitu saja. Di pos III baru lah kami mengistirahatkan lutut yang mulai gemetar dan bahu yang mulai sakit. Setelah sedikit mengobrol dengan bapak yang mendaki dari Cemoro Kandang tapi turun dari Cemoro Sewu kamipun melanjutkan perjalanan kembali.

Menuju pos II bahu kiri terasa semakin sakit menahan beban. Tak ingin gagal dengkul atau terpeleset di medan berbatu ini saya berjalan pelan dibelakang sambil menahan ngilu dipundak.

Di Pos II kami beristirahat lagi. Sambil mengoleskan obat gosok pada pundak yang sakit kami mengobrol dengan bapak yang membawa seluruh keluarganya untuk mengisi liburan Imlek ini dengan naik gunung lawu.

Setelah cukup beristirahat kami kembali bergerak menuju Pos I. Setelah beberapa lama berjalan akhirnya kami sampai juga di pos I. Disini kami beristirahat lagi sambil mengobrol dengan rombongan bapak2 yang tampaknya berasal dari perguruan silat. Mereka dengan ramah menawari kami gorengan tahu dan tempe. Lumayan untuk sedikit mengganjal perut.

Tak ingin kemalaman dijalan tak lama kami kembali melanjutkan perjalanan. Seperti biasa afri dan teguh berjalan cepat didepan. Sementara saya berjalan pelan dibelakang ditemani oleh Bowo. ^^ . Sewaktu naik saya menemani bowo yang kelelahan, sewaktu turun Bowo yang menemani saya yang kecapekan.

Tak berapa lama setelah melewati Sendang Panguripan hujan mulai turun. Saya yang sudah mengenakan raincoat dari tadi terus saja berjalan, sementara bowo yang tak ingin repot mengganti jaketnya dengan jas hujan membiarkan saja dirinya berhujan-hujanan. 3 menit berjalan kami bertemu afri dan teguh yang sedang mengenakan jas hujan di sebuah pondok peladang. Bowo pun ikut melapis jaketnya yang sudah basah dengan jas hujan. Sementara hujan semakin lama turun semakin deras.

Berjalan menembus hujan lebat kami mengayun langkah dengan lebih hati-hati agar tidak terpeleset. Sementara langit semakin gelap. Kami berjalan beriringan menembus hujan lebat menuruni jalur setapak yang sudah berubah menjadi jalur air.

18.10

Selepas Magrib akhirnya kami sampai juga di Basecamp Cemoro Sewu. Pos pendakian tak ada yg menjaga sehingga kami terus saja menuju masjid untuk berganti pakaian dan beristirahat.  Dibelakang Masjid terdapat beberapa buah kamar mandi yang biasa digunakan oleh para pendaki.

19.30

Selesai berganti pakaian kini perut mulai menagih untuk diisi. Kamipun bergerak ke seberang jalan memasuki warung pojok yang tampaknya menjual nasi. Didalam warung kami memesan semangkuk nasi soto bergabung dengan 2 rombongan yang hendak naik malam itu. (Nasi soto + teh manis + krupuk Rp 7.500)

20.00

Seusai makan, kini badan yang menagih untuk diistirahatkan. Kamipun meminta ijin untuk menginap disitu kepada ibu pemilik warung. Alhamdulillah beliau mengijinkan dan memberikan kami selembar tikar. Tak buang waktu kamipun segera mengeluarkan sleeping bag untuk tidur :malus.

Beberapa kali saya terbangun kedinginan karena pintu warung masih terbuka. Ada rombongan pendaki yang masih bergadang mempersiapkan pendakian untuk pagi harinya. Baru sekitar pukul 2 saya bisa tertidur pulas setelah pintu warung ditutup dan rombongan tersebut beristirahat.

Senin, 23 Januari 2012

06.00

Begitu bangun kamipun memesan sepiring nasi goreng sambil packing ulang dan berkemas-kemas. (Nasi goreng + telur ceplok + teh panas Rp 8.500)

07.00

Didepan warung telah menunggu L300 yang masih kosong. Kami serasa mencarter mobil tersebut saja karena hanya kami saja yang menaikinya sampai di terminal Tawang Mangu. (Rp 7.000) Tawang Mangu ini seperti Puncaknya Solo tapi lebih sepi karena tidak banyak bis-bis besar yang lewat.

07.30

Sampai  di terminal Tawang Mangu kami langsung naik bis menuju Solo. (Rp 10.000) Sepanjang jalan bis dipenuhi oleh ibu-ibu dan anak2 yang hendak berlibur ke Solo ^^.

09.20

Afri turun duluan di dekat Stasiun Solo Balapan. Berbekal kartu ajaibnya ia akan pulang naik kereta bisnis. Sementara kami (saya, teguh dan bowo) yang kehabisan tiket terpaksa harus naik bis menuju Jakarta. Di Terminal Tirtonadi Solo kami mencari info bis menuju Jakarta. Namun bis baru berangkat pukul setengah dua nanti. Empat jam lagi :matabelo.

Bis Agra Mas Ekonomi Rp 75.000 dan AC Rp 115.000 tapi akhirnya turun menjadi 95 ribu. Namun karena berangkat masih lama akhirnya kamipun untuk estafet saja menuju semarang dulu. Selain karena malas menunggu, juga takut telat sampai dijakarta untuk ngantor esok harinya.

09.30

Menuju Semarang dengan bis Royal Safari AC Rp 20.000. Ngemil2 Rp 5.000

12.30

Setibanya di Terminal Terboyo kami disambut oleh para calo yang berebutan mangsa. Digiring oleh calo2 menuju loket bis ke jakarta ternyata bis ekonomi ke jakarta saja dibandrol 115 ribu. Kamipun menolak dan mengatakan akan estafet ke Tegal saja. Lagi-lagi kami diharuskan membayar mahal 55 rb hanya untuk sampai tegal saja. Dengan alasan hendak ke WC dan makan dahulu kamipun berkelit meninggalkan sekumpulan calo-calo tersebut.

Keluar dari kamar mandi kami bertemu dengan harga yang lebih masuk akal. Rp 30.000. Walau masih terbilang mahal akhirnya kami mengambil opsi ini. Namun seperti biasa, bis Adi Mulya ini baru berangkat hampir sejam kemudian setelah bis terisi beberapa penumpang :nohope.

Untuk anda yang berencana hendak nge-bis dari Terminal Terboyo disarankan untuk naik dari luar terminal saja.

Seperti layaknya bis ekonomi, bis ini terus mengambil semua penumpang yang menyetopnya. Begitu juga ia selalu berhenti di setiap Terminal yang dilewatinya. Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang. Untungnya bis sampai pada waktu yang tepat di Terminal Tegal, setengah tujuh malam. (Ngemil Rp 3.000)

19.30

Disini saya dan teguh berpisah dengan Bowo. Ia hendak naik bis menuju Pulogadung. Sementara Teguh yang menuju Lebak Bulus searah dengan saya hendak menuju Cileduk. Kamipun mengambil tempat duduk di bagian belakang bus AC Sinar Jaya (Rp 40.000) ini agar lebih leluasa berisitirahat. (Pop Mie Rp 6.000 + Aqua Rp 3.000 + Mie goreng Rp 2.000)

Selasa, 24 Januari 2012

03.30

Tiba di pool terakhir, Cileduk. Dengan menumpang angkot Rp 3.000 disambung jalan kaki 25 menit saya pun pulang menuju rumah.

04.05

Tiba di rumah dan istirahat.

Gunung Merbabu terletak di jawa tengah dengan ketinggian 3.145 mdpl pada puncak Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung dan “babu” yang berarti wanita. Gunung ini dikenal sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo.

Terdapat 7 buah puncak yakni Puncak Pertapan – Watu Gubuk (2735 mdpl), Puncak Watu Tulis – Menara (2920 mdpl), Puncak Geger Sapi (2987 mdpl), Puncak Ondo Rante (3000 mdpl), Puncak Puncak Syarif (3119 mdpl), Puncak Kenteng Songo (3146 mdpl) dan Puncak Trianggulasi (3150 mdpl).

Puncak Gn.Merbabu dapat ditempuh dari Cunthel, Thekelan, (Kopeng / Salatiga) Wekas (Kaponan / Magelang) atau dari Selo dan Ampel (Boyolali). Perjalanan akan sangat menarik bila Anda berangkat dari jalur Utara (Wekas, Cunthel, Thekelan) turun kembali lewat jalur selatan (Selo).

Pemandangan yang sangat indah dapat disaksikan disepanjang perjalanan tersebut. Banyak terdapat gunung disekitar gunung Merbabu, diantaranya Gn. Merapi, Gn.Telomoyo, Gn.Ungaran. Gunung Merbabu ini membentuk garis deretan gunung berapi ke arah utara Merapi – Merbabu – Telomoyo – Ungaran.

Jum’at, 23 Desember 2011

18.45

Menuju Ps. Senen Rp 3.000

20.30

Didepan pintu masuk jalur utara saya bertemu rombongan Hasbi (4 orang) dan rombongan Opik (4 orang). Hasbi sudah ada disini sejak siang untuk mencari tiket2 tersisa. 3 tiket normal berhasil didapat dan satu tiket seharga 85 rb harus ditebus dari calo.

Tiket KA Tawang Jaya menuju Semarang telah kami pesan seminggu sebelumnya (Rp 33.500). Satu persatu anggota rombongan kami berdatangan Nuril, Teguh, Reza, Afri, dan terakhir Indah yang datang pada detik2 terakhir.

21.40

Menuju Semarang. Kami mendapat tempat di gerbong tiga dengan tempat duduk yang saling berhadapan di bagian tengah gerbong. Setelah lelah mengobrol saya menggelar matras di kolong tempat duduk untuk bersitirahat.

Tengah malam selepas Cirebon, saya terbangun. Perut sudah minta diisi. (Nasi goreng Rp 3.000)

Sabtu, 24 Desember 2011

06.45

Tiba di Stasiun Poncol Semarang. Sambil menghindari calo-calo kami + rombongan opik sarapan pagi dulu di warung tenda depan stasiun (Nasi Gule Rp 8.000). Sementara rombongan Hasbi mencari tiket balik dahulu.

Selesai makan kami sempat ditawari utk mencarter espas 250rb sampai Ps. Sapi. Tapi harga yg terlalu mahal membuat kami memutuskan untuk menunggu bis yg menuju Salatiga saja.

08.30

Setelah rombongan Hasbi mendapat tiket (utk tgl 28) tak lama datanglah bis yg dinanti-nanti. Kami ber-14 pun menuju Pasar Sapi Salatiga dengan menumpang bis kecil yang lumayan panas ini (Rp 7.000).

10.30

Tiba di Ps. Sapi. Belanja logistik di Ps. Tradisional dan Indomaret (Logistik Rp 8.000 / orang).  Halim, yanstri dan Rina (+ Ari – rombongan Opik) tiba dari bandung.

11.00

Menuju Basecamp Wekas dengan mencarter bis kecil yg kami tumpangi sebelumnya (Rp 12.000).

12.00

Tiba di Basecamp. Registrasi (Rp 4.000).

Packing dan ganti kostum karena hujan mulai turun.

Makan Siang (Nasi Telur ceplok + sayur tahu Rp 5.000)

14.15

Menuju Pos I.

Dibawah guyuran hujan kami melangkah meninggalkan basecamp Wekas menyusuri jalan yang terus mendaki. 10 menit kemudian Rina tampak mulai kecape’an dan beberapa kali kami berhenti menunggu nya mengatur nafas. Tak lama setelah kami memasuki trek pendakian, dijalur yang licin ia tampak semakin kepayahan. Reza yang membawa beban kecil kemudian membantu

15.30

Tiba di (tempat yg kami perkirakan) Pos I karena tidak ada plang penunjuknya :hammer

17.30

Tiba di Pos II.

Diriin tenda.

Masak

20.00

Makan Malam

21.00

Istirahat

Minggu, 25 Desember 2011

02.00

Cari air. Masak n siap utk muncak

03.00

Summit Attack

06.00

Tiba di Pos Helipad. Halim sakit sehingga dia dan Nuril memutuskan kembali ke tenda.

07.00

Tiba di Puncak Syarif

07.45

Tiba di Puncak Kenteng Songo

Di Puncak Kenteng Songo terdapat batu berlobang yang dikeramatkan masyarakat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 buah yang hanya bisa dilihat, menurut penglihatan paranormal. Mata biasa hanya melihat 4 buah batu berlobang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn. Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn. Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn. Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

07.50

Tiba di Puncak Trianggulasi

08.00

Saya dan Teguh turun melalui jalur Selo. Hujan turun membuat jalur semakin licin. Beberapa kali saya terpeleset. Kabut tebal membuat kacamata saya berembun sehingga saya harus melepas kacamata.

08.40

Tiba di Pos V Sabana II

Sekitar 1/2 jam berjuang melintasi medan yang terjal dan licin kami pun sampai di kaki bukit, selanjutnya turun dan landai melintasi padang Padang Edelweiis dalam ukuran besar. Bila kita berjalan dengan cermat sekitar sekitar 25 meter di sebelah kiri jalur akan kita temukan sebuah batu berlobang yang keramat.

Dari tempat ini apabila cuaca cerah maka pemandangan ke arah Gunung Merapi akan sangat indah sekali. Tapi sayang kabut tebal dan hujan gerimis menghalanginya -_-. Di sini adalah tempat terakhir yang bisa digunakan untuk berteduh dan beristirahat dengan nyaman, karena jalur selanjutnya berupa padang rumput terbuka yang kering dan sangat terjal, berdebu di musim kemarau dan sangat licin di musim hujan. Pemandangan alam  di sisi kanan terdapat Gunung Kenong dan di sisi kiri terdapat gunung Kukusan yang runcing dan terjal.

08.50

Pos IV Sabana I

09.30

Pos III Batu Tulis

Batu Tulis adalah tempat terbuka yang cukup luas, di tengahnya terdapat sebuah batu yang cukup besar. Pemandangan indah di sekitar Batu Tulis bisa menjadi pengobat lelah. Banyak terdapat Edelweiss yang tumbuh tinggi dan besar sehingga bisa digunakan untuk berteduh.

10.30

Pos II Padenan

11.45

Pos I Dok Malang

Jalur pendakian cukup landai, namun akan banyak dijumpai pertigaan dengan jalur penduduk mencari kayu bakar dan rumput, untuk itu tetap pilih jalur yang paling lebar. Berjalan sekitar satu jam sampai di  area perkemahan yang sangat luas yang ditumbuh pohon-pohon pinus sehingga cukup rindang dan sejuk di siang hari.

13.00

Tiba di Basecamp Dukuh Genteng, Selo- rumah Pak Bari. Rumahnya sangat besar bisa menampung puluhan pendaki yang menginap. Di rumah ini pendaki bisa memesan makanan dan minuman, seperti nasi goreng, nasi sayur, mie rebus, dan kopi. Stiker kaos dan aneka cendara mata juga bisa di peroleh di s ini.

Setelah makan siang (Nasi Goreng + teh manis Rp 7.000) kami istirahat sejenak sambil menunggu hujan deras yang masih saja mengguyur lereng merbabu.

15.30

Menuju Terminal Selo dengan ojek (Rp 10.000). Makan Bakso + the manis (Rp 7.000).

Kecamatan Selo masuk wilayah Kabupaten boyolali, Jawa Tengah. Selo berada di tengah-tengah antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Pendaki yang hendak menapaki puncak Gunung Merapi lebih suka mengambil jalur dari Selo ini. Sedangkan Pendaki Gunung Merbabu lebih suka mendaki dari Kopeng dan turun di Selo.

Untuk menuju ke Selo bisa ditempuh dari Magelang atau dari Boyolali. Namun lebih mudah memperoleh kendaraan umum dari Boyolali. Untuk menuju ke kota Boyolali dari Semarang naik bus ke Solo atau sebaliknya dari Solo naik bus jurusan Semarang turun di kota Boyolali. Apabila dari kota Yogyakarta harus naik bus jurusan Solo turun di Kartasura, kemudian ganti bus jurusan Solo Semarang turun di kota Boyolali.

Untuk menuju ke Selo dari kota Boyolali menggunakan bus kecil jurusan Selo. Bus yang langsung ke Selo agak jarang biasanya hanya sampai Pasar Cepogo, dan dari pasar Cepogo ganti lagi bus kecil yang menuju Selo. Dari kota Boyolali bus kecil yang menuju Selo ini tidak parkir di terminal Boyolali. Pendaki harus sedikit berjalan kaki ke Pasar Sapi di mana bus kecil jurusan Cepogo/Selo berhenti mencari penumpang. Di Pasar ini terdapat patung Sapi yang melambangkan industri peternakan sapi yang menjadi andalan pendapatan masyarakat Boyolali.

Untuk menuju New Selo (basecamp pendakian gn. Merapi) dari basecamp genteng dapat menggunakan ojek dengan biaya Rp 15.000

16.30

Karena Bis menuju boyolali sudah tidak ada akhirnya kami menumpang pickup pasir bersama 3 pendaki asal Ampel menuju Cepogo (Rp 2.500)

17.10

Menuju Ampel dengan menumpang bis kecil (Rp 3.000)

17.45

Menuju Semarang menumpang bis Royal Safari Solo – Semarang (Rp 15.000)

20.00

Tiba di Tugu Muda. Menuju Kost-an Erwin di Tembalang Rp 4.000. Dijemput erwin dengan motor dari patung kuda

21.00

Tiba di kost-an. Mandi. Makan malam (Nasi ati ampela penyet + es teh manis (Rp 7.000)

22.30

Istirahat

Senin, 26 Desember 2011

07.30

Mandi, Sarapan (nasi soto + bakwan Rp 4.000)

10.30

Erwin mengantar Teguh ke Terminal. Sedangkan saya menumpang angkot menuju Patung kuda (Rp 2.000)

11.00

Menuju Stasiun Poncol (Rp 5.000)

11.45

Tiba di Stasiun. Makan siang (Nasi Pecel + gorengan + es teh manis Rp 6.500). Nitip keril di warung

12.30

Jalan kaki menuju Jl. Pemuda. Masuk Paragon Mall Cuma buat ngadem dan liat2 :hammer.

14.00

Nongkrong di disebrang Tugu Muda sambil makan tahu gimbal (Rp 9.000 + es teh Rp 3.000)

15.00

Balik ke stasiun menyusuri  Jl. Imam Bonjol.  Hujan turun. Neduh lumayan lama bersama tukang becak

16.00

Balik ke warung. Ngemil (Rp 3.500) sambil nonton berita dan upin dan ipin :hammer

17.00

Balik ke Stasiun. Ketemu Indah dan Afri yg lg ngantri tiket tapi akhirnya kehabisan.

19.05

Beberapa detik menjelang kereta jalan akhirnya tiket berhasil didapat.

22.00

Makan Malam (Nasi goreng Rp 3.000 + Aqua Rp 3.000)

Selasa, 27 Desember 2011

02.45

Tiba di Stasiun Pasar Senen. Istirahat menunggu pagi tiba.

05.30

Pulang (Rp 3.000)