
Gunung Lawu (3.265 m) terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.
Legenda gunung Lawu
Di akhir masa kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dari istrinya Dara Petak putri dari daratan Tiongkok lahir putra Raden Fatah. Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).
Melihat kondisi itu, masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.
Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Hargo Dalem, dan Sabdopalon moksa di Hargo Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Jalur Cemoro Sewu
Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih terjal akan tetapi lebih cepat sampai dipuncak daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah tertata rapi.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos 4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat Telaga Sarangan dari kejauhan.

Jum’at, 20 Januari 2012
18.00
Dari rest area dekat rumah, saya menumpang bis jurusan Blok M untuk turun di Slipi (Rp 5.500). Jalan yang padat merayap di gerbang Tol karang Tengah dan Kebon Jeruk membuat hati cemas takut ketinggalan kereta yg berangkat jam setengah 8.
19.05
Baru turun dari flyover Tomang kondisi jalan sudah macet parah sehingga saya memutuskan turun dan berjalan kaki ke depan Slipi Jaya. Tak ingin ketinggalan kereta saya pun naik ojek menuju Stasiun Tanah Abang (Rp 19.000). Sebelum masuk ke dalam stasiun saya membeli minum dahulu sambil menukar uang untuk membayar ojek (Rp 6.000).
19.25
Di samping Ka Bengawan: afri, teguh dan bowo sudah menunggu, dan kamipun segera menuju tempat duduk kami digerbong tujuh. (Tiket sudah dibeli dahulu seminggu sebelumnya oleh afri Rp 37.000)
19.50
Telat 10 menit dari jadwal, akhirnya Ka. Bengawan berangkat meninggalkan stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Solo Jebres. Di Stasiun Cirebon perut mulai menagih minta diisi. (Nasi goreng Rp 3.000)
Sabtu, 21 Januari 2012
08.00
Setibanya di Solo Jebres, kami sarapan soto kwali didepan stasiun (Nasi Soto + tahu tempe + es teh manis Rp 7.000).

08.30
Naek bis kecil ke UNS (Rp 2.500)

09.00
Naek bis PO. Langsung Jaya ke Tawang Mangu (Rp 10.000)

10.30
Belanja di supermarket Tawang Mangu (logistik team Rp 17.500 + pribadi Rp 4.500)
11.00
Naek L300 menuju Cemoro Sewu (Rp 7.000)
11.30
Packing + belanja logistik pribadi tambahan (Rp 10.000)
12.30
Registrasi (Rp 5.000). Menuju Pos I
13.05
Tiba di Sendang Panguripan

13.15
Tiba di Pos I. Istirahat 15 menit

Menuju Pos II

14.30
Tiba di Pos II

14.45
Menuju Pos III
15.30
Hujan turun
16.10
Tiba di Pos III
16.30
Menuju Pos IV. Afri dan Teguh jalan duluan. Sementara saya menemani Bowo yang sering keram betisnya menembus hujan yang semakin lama semakin lebat. Ketika vegetasi tanaman semakin pendek angin kencang pun mulai menghantam kami.
Berkali-kali bowo tampak kerepotan karena angin membuat ponco yg ia pakai menghalangi jalan dan pandangan matanya. Ditambah kakinya yang sudah sangat kelelahan membuat kami ketinggalan jauh dibelakang.
17.45
Hari mulai gelap dan hujan masih tetap deras mengguyur. Setelah menyiapkan senter kami terus berjalan pelan menuju pos IV.
18.00
Akhirnya kami tiba juga di Pos IV. Namun tak tampak afri dan teguh disini. Tampaknya mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan karena tidak ada pondok untuk berlindung dari hujan. Bowo yang sudah kedinginan pun mulai mengenakan jaketnya. Tanpa terasa karena mengganti pakaian ditengah hujan deras, ia pun tak sadar ketika jam tangannya ternyata terlepas. Hal ini baru kami ketahui ketika sampai di pos V.
Setelah siap kamipun melanjutkan perjalanan. 5 menit berjalan akhirnya kami bertemu dengan afri dan teguh. Ternyata mereka telah lama tiba di pos V, namun karena kedinginan mereka memutuskan untuk turun menjemput kami. (Di pos V juga tidak ada pondok untuk berlindung)
18.30
Tiba di pos V. Dengan tangan gemetar kedinginan kami mendirikan tenda masih dibawah guyuran hujan. Setelah tenda berdiri kamipun bergiliran mengganti pakaian basah.
19.00
Selesai berganti kostum ke pakaian yang lebih hangat kami pun mulai menyiapkan makan malam sekedarnya. Mie rebus, susu hangat dan roti tawar menjadi menu makan malam kami saat itu.
20.00
Istirahat. Seperti sarden kami berempat berbaring berdempetan ditenda kecil yang idealnya hanya cukup dipakai bertiga ini. Keril yang basah kami taruh diluar ditutupi jas hujan dan ponco. Sementara kantong pakaian kering menjadi alas pengganjal kepala.
Berkali-kali saya terbangun, tanpa sarung tangan dan tidur menempel pada dinding tenda yg basah membuat saya tidur tak nyenyak menahan dingin. Walau hujan telah berhenti namun angin masih terus berderu kencang.
Minggu, 22 Januari 2012
03.00
Dalam keadaan terjaga kedinginan, saya mendengar suara2 yang semakin mendekat. Rupanya ada rombongan pendaki yang baru sampai di Pos V ini. Karena kabut tebal dan jalan yang kurang jelas mereka pun menanyakan arah kepada kami. Saya pun menyahut tidak tahu, karena ini juga baru pertama kali kami kesini.
Setelah beberapa kali mencoba beberapa jalur akhirnya mereka kembali ke pos V dan berlindung disemak-semak karena mereka tak membawa tenda.
04.00
Saya membangunkan yang lain dan mulai menyiapkan sarapan untuk bekal tenaga muncak nanti. Mie goreng plus sarden, kopi hangat dan roti tawar.
05.30
Setelah perut telah diisi saya pun keluar tenda. Pagi telah datang menyinari lereng lawu. Perlahan kabut mulai tersingkap dibeberapa tempat, memberikan view peradaban jauh dibawah sana. Tapi matahari tetap bersembunyi dibalik awan sehingga puncak masih tetap tertutupi kabut.

06.30
Selesai packing kamipun melanjutkan perjalanan. Kini kabut hampir seluruhnya menghilang tapi angin kencang masih terus menemani.

setelah menuruni lembah dan sampai di puncak punggungan sampailah kami di Sendang Drajat. Ternyata tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Sambil mengisi perbekalan minum kami mengobrol dengan rombongan semalam. Ternyata mereka telah sampai ditempat ini, tapi gelap dan kabut tebal membuat sendang drajat yang berada dibawah tak tampak oleh mereka sehingga mereka memutuskan kembali ke pos V.

Di sekitar sendang drajat ada beberapa gua kecil yang bisa dimanfaatkan untuk tempat berteduh bila tidak membawa tenda.
06.45
Setelah siap, kami pun melanjutkan perjalanan melipir punggungan bukit. Kami berjalan duluan meninggalkan rombongan dari Purworejo yang masih bersiap-siap. Puncak Hargo Dumilah mulai tampak didepan sana. Dibawah jalur pendakian ke puncak kami berpapasan dengan lelaki tua yang tampaknya baru saja muncak solo pagi itu.
Tak ingin terburu buru ke puncak saya memutuskan untuk bergerak ke kanan dahulu menuju Hargo Dalem. Menyusuri lereng dengan jalan mendatar sampailah kami di beberapa bangunan yang dijadikan tempat petilesan, juga warung Mbok Yem yang terkenal itu.

Tapi karena musim badai seperti sekarang ini warung ini pun tutup. Hanya ada ayam-ayamnya yang berkeliaran disekitar pondok.

Di Hargo Dalem akhirnya kami melihat papan menunjuk yang mengarah ke dua jalur lain selain jalur resmi Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang. Yaitu jalur Candi Cetho dan Jogorogo. Kami berencana untuk turun melalui jalur Cetho yang katanya mempunyai view terbagus.

07.10
Setelah foto-foto kamipun mulai mendaki menuju puncak. Dari samping kiri warung Mbok Yem, dengan keril menggantung dipunggung, kami beringsut pelan melintasi jalur air yang dijadikan jalur pendakian ke puncak. Setelah kurang lebih 20 menit mendaki akhirnya tiba di Puncak Hargo Dumilah.

07.30
Di puncak kami bertemu kembali dengan rombongan dari Purworejo tadi. Mereka lebih dahulu sampai dipuncak karena langsung mengambil jalur puncak tanpa memutar dahulu ke Hargo Dalem. Walau matahari tak bersinar langsung tapi cuaca terbilang cukup cerah dimusim badai ini. Tampak gunung Arjuno dan Welirang di sebelah timur laut. Merapi dan Merbabu di barat laut.
Setelah foto-foto dan menikmati view kamipun berpisah dengan rombongan purworejo. Dengan rencana turun melalui cetho kami kembali turun ke Hargo Dalem sementara mereka kembali lagi ke Sendang Drajat.
08.30
Di Hargo Dalem kami bertemu dengan seorang lelaki tua yang tampaknya baru saja bangun. Tampangnya yang kurang ramah membuat saya sungkan untuk bertanya lebih detil mengenai jalur turun ke Candi Cetho. Hal yang sangat saya sesali selanjutnya -__-.

Tak jauh dari Hargo Dalem kami tiba di gundukan batu2 besar yang berserakan. Kami terus saja berjalan lurus menuju Menara BTS yang tampak didepan sana. Padahal untuk menuju jalur cetho seharusnya berbelok ditempat ini. Tapi karena tak ada penunjuk arah kamipun salah mengambil jalan.

Melintasi sabana edelweis kami melewati 2 buah kolam kecil berair jernih. Setelah meneguk sedikit airnya yang segar kamipun terus bergerak menuju menara.

Dari kejauhan, didekat puncak menara tampak terpal biru yang kami kira tenda atau pondok. Kami berencana hendak menanyakan jalur turun pada orang diatas sana.
09.00
Setelah mendaki sedikit jalur terjal dengan jurang disebelah kiri akhirnya kami tiba di Puncak Menara BTS.

Terpal biru yang tampak dari bawah tadi ternyata atap sebuah pondok kecil tempat menaruh sesaji. Namun tak ada seorangpun disitu -__-.

Setelah mengambil nafas 10 menit kemi mengambil jalan turun di belakang menara. Setelah beberapa kali orientasi medan karena jalur yang kurang jelas akhirnya kami menemukan jalur menurun yang ditandai tali biru yang terikat di dahan. Kami berjalan santai karena mengira kami telah menemukan jalan yang benar.
09.30
Sampai di bawah kami menemukan jalan bercabang. Sebelah kiri tampak jalur menurun landai tapi tampaknya akhirnya menuju jurang. Sebelah kanan langsung menuju jurang. Sementara lurus tampak jalur yang lebih jelas tapi kami harus mendaki lagi.
5 menit mendaki kami sudah ngos-ngosan. Dari atas sini jalur sebelah kiri yang tadinya kurang jelas tampak semakin jelas. Saya dan afri pun memutuskan untuk orientasi medan lagi. Kami melepas keril dan berjalan mendaki ke puncak bukit sementara Teguh dan Bowo beristirahat.
Walau tanpa keril cukup membuat nafas saya terengah-engah untuk menuju puncak bukit ini. Disini ada sebuah pondok kecil tempat menaruh sesaji dan pondok seng didepannya yang tampaknya biasa digunakan untuk menginap. Setelah berkeliling sekitar pondok ternyata tak ada penunjuk arah jalur, yang ada hanya sebuah kolam kering. Dan stiker sebuah sekolah yang menempel dipohon. Karena tak menemukan jalur kamipun kembali turun ketempat kami meninggalkan keril.
10.30
kembali di persimpangan, kali ini kami mengambil jalur kiri menurun menyusuri jalur rerumputan. Tak beberapa lama kemi menemukan sebuah pondok sesajian yang atapnya telah terlepas. Namun sesudah pondok jalur semakin tidak jelas dan rerumputan semakin tinggi. Didepan kiri kami bertemu dengan pepohonan rapat yang mengapit sebuah jurang yang lumayan dalam. Kami masih mencoba turun sedikit sambil melipir kekanan mencoba mencari jalan atau tanda 2 penunjuk arah.
15 menit mencari arah dan orientasi medan akhirnya kamipun menyerah. Tak mau mengambil resiko nyasar lebih jauh kamipun memutuskan untuk kembali lagi ke Puncak Menara. Namun untuk kembali ke menara jalurnya cukup terjal, sementara tenaga kami sudah terkuras habis.
12.00
Setelah berulang kali beristirahat, akhirnya kami sampai juga dipuncak Menara. Kini kami sudah terasa lebih lega. Karena jalur tidak lagi menanjak. Sampai di tengah Sabana, kabut yang tadinya menutupi sebagian pemandangan puncak mulai menghilang. Dan kemudian cuaca menjadi sangat cerah.

Mentari yang bersinar terang, angin yang berhembus pelan menggoyang rerumputan sabana tampak indah sekali disekeliling kami. Dan kamipun tak lagi menyesali perjalanan nyasar tadi. Karena bila tak kembali lagi kesini belum tentu kami akan bertemu dengan view indah dalam cuaca cerah seperti ini.
01.00
Di Hargo Dalem kami kembali bertemu dengan lelaki tua tadi. Setelah cerita bahwa kami sempat nyasar tadi ia berubah lebih ramah dan tampaknya sedikit menyesali tidak memberikan kami petunjuk yang lebih jelas tadi. Pak Kelik yang katanya menjadi tenaga sukarela sementara untuk menjadi penjaga Hargo Dalem itu menawarkan kami untuk menginap di Pondok2 beratap seng yang ada disamping Pondok Hargo Dalem bila kami kembali lagi ke sini kelak.
Setelah berpamitan dengan beliau, kamipun kembali ke Sendang Drajat untuk istirahat dan makan siang.
01.20
Sampai Sendang Drajat ternyata tidak ada seorangpun disitu. Kami pun memilih untuk beristirahat didalam gua. Saya dan Bowo yang paling kelelahan beristirahat mengumpulkan tenaga, sementara afri dan teguh yang masih cukup kuat pun memasak makan siang kami. Nasi sarden, mie rebus, mie goreng serta kopi hangat akhirnya berhasil mengembalikan tenaga kami. Sewaktu makan ada rombongan lain yang datang. Ternyata rombongan dari Yogya yang kami temui di pos III kemarin berencana untuk nge-camp disini.
02.10
Selesai packing kamipun mulai beranjak turun. Cuaca sangat cerah. Telaga sarangan tampak indah dibawah sana. Diperjalanan turun ini kami bertemu banyak rombongan yang hendak ke puncak.
Pos V dan Pos IV kami lewati begitu saja. Di pos III baru lah kami mengistirahatkan lutut yang mulai gemetar dan bahu yang mulai sakit. Setelah sedikit mengobrol dengan bapak yang mendaki dari Cemoro Kandang tapi turun dari Cemoro Sewu kamipun melanjutkan perjalanan kembali.
Menuju pos II bahu kiri terasa semakin sakit menahan beban. Tak ingin gagal dengkul atau terpeleset di medan berbatu ini saya berjalan pelan dibelakang sambil menahan ngilu dipundak.
Di Pos II kami beristirahat lagi. Sambil mengoleskan obat gosok pada pundak yang sakit kami mengobrol dengan bapak yang membawa seluruh keluarganya untuk mengisi liburan Imlek ini dengan naik gunung lawu.
Setelah cukup beristirahat kami kembali bergerak menuju Pos I. Setelah beberapa lama berjalan akhirnya kami sampai juga di pos I. Disini kami beristirahat lagi sambil mengobrol dengan rombongan bapak2 yang tampaknya berasal dari perguruan silat. Mereka dengan ramah menawari kami gorengan tahu dan tempe. Lumayan untuk sedikit mengganjal perut.
Tak ingin kemalaman dijalan tak lama kami kembali melanjutkan perjalanan. Seperti biasa afri dan teguh berjalan cepat didepan. Sementara saya berjalan pelan dibelakang ditemani oleh Bowo. ^^ . Sewaktu naik saya menemani bowo yang kelelahan, sewaktu turun Bowo yang menemani saya yang kecapekan.
Tak berapa lama setelah melewati Sendang Panguripan hujan mulai turun. Saya yang sudah mengenakan raincoat dari tadi terus saja berjalan, sementara bowo yang tak ingin repot mengganti jaketnya dengan jas hujan membiarkan saja dirinya berhujan-hujanan. 3 menit berjalan kami bertemu afri dan teguh yang sedang mengenakan jas hujan di sebuah pondok peladang. Bowo pun ikut melapis jaketnya yang sudah basah dengan jas hujan. Sementara hujan semakin lama turun semakin deras.
Berjalan menembus hujan lebat kami mengayun langkah dengan lebih hati-hati agar tidak terpeleset. Sementara langit semakin gelap. Kami berjalan beriringan menembus hujan lebat menuruni jalur setapak yang sudah berubah menjadi jalur air.
18.10
Selepas Magrib akhirnya kami sampai juga di Basecamp Cemoro Sewu. Pos pendakian tak ada yg menjaga sehingga kami terus saja menuju masjid untuk berganti pakaian dan beristirahat. Dibelakang Masjid terdapat beberapa buah kamar mandi yang biasa digunakan oleh para pendaki.
19.30
Selesai berganti pakaian kini perut mulai menagih untuk diisi. Kamipun bergerak ke seberang jalan memasuki warung pojok yang tampaknya menjual nasi. Didalam warung kami memesan semangkuk nasi soto bergabung dengan 2 rombongan yang hendak naik malam itu. (Nasi soto + teh manis + krupuk Rp 7.500)
20.00
Seusai makan, kini badan yang menagih untuk diistirahatkan. Kamipun meminta ijin untuk menginap disitu kepada ibu pemilik warung. Alhamdulillah beliau mengijinkan dan memberikan kami selembar tikar. Tak buang waktu kamipun segera mengeluarkan sleeping bag untuk tidur :malus.
Beberapa kali saya terbangun kedinginan karena pintu warung masih terbuka. Ada rombongan pendaki yang masih bergadang mempersiapkan pendakian untuk pagi harinya. Baru sekitar pukul 2 saya bisa tertidur pulas setelah pintu warung ditutup dan rombongan tersebut beristirahat.
Senin, 23 Januari 2012
06.00
Begitu bangun kamipun memesan sepiring nasi goreng sambil packing ulang dan berkemas-kemas. (Nasi goreng + telur ceplok + teh panas Rp 8.500)
07.00
Didepan warung telah menunggu L300 yang masih kosong. Kami serasa mencarter mobil tersebut saja karena hanya kami saja yang menaikinya sampai di terminal Tawang Mangu. (Rp 7.000) Tawang Mangu ini seperti Puncaknya Solo tapi lebih sepi karena tidak banyak bis-bis besar yang lewat.
07.30
Sampai di terminal Tawang Mangu kami langsung naik bis menuju Solo. (Rp 10.000) Sepanjang jalan bis dipenuhi oleh ibu-ibu dan anak2 yang hendak berlibur ke Solo ^^.
09.20
Afri turun duluan di dekat Stasiun Solo Balapan. Berbekal kartu ajaibnya ia akan pulang naik kereta bisnis. Sementara kami (saya, teguh dan bowo) yang kehabisan tiket terpaksa harus naik bis menuju Jakarta. Di Terminal Tirtonadi Solo kami mencari info bis menuju Jakarta. Namun bis baru berangkat pukul setengah dua nanti. Empat jam lagi :matabelo.
Bis Agra Mas Ekonomi Rp 75.000 dan AC Rp 115.000 tapi akhirnya turun menjadi 95 ribu. Namun karena berangkat masih lama akhirnya kamipun untuk estafet saja menuju semarang dulu. Selain karena malas menunggu, juga takut telat sampai dijakarta untuk ngantor esok harinya.
09.30
Menuju Semarang dengan bis Royal Safari AC Rp 20.000. Ngemil2 Rp 5.000
12.30
Setibanya di Terminal Terboyo kami disambut oleh para calo yang berebutan mangsa. Digiring oleh calo2 menuju loket bis ke jakarta ternyata bis ekonomi ke jakarta saja dibandrol 115 ribu. Kamipun menolak dan mengatakan akan estafet ke Tegal saja. Lagi-lagi kami diharuskan membayar mahal 55 rb hanya untuk sampai tegal saja. Dengan alasan hendak ke WC dan makan dahulu kamipun berkelit meninggalkan sekumpulan calo-calo tersebut.
Keluar dari kamar mandi kami bertemu dengan harga yang lebih masuk akal. Rp 30.000. Walau masih terbilang mahal akhirnya kami mengambil opsi ini. Namun seperti biasa, bis Adi Mulya ini baru berangkat hampir sejam kemudian setelah bis terisi beberapa penumpang :nohope.
Untuk anda yang berencana hendak nge-bis dari Terminal Terboyo disarankan untuk naik dari luar terminal saja.
Seperti layaknya bis ekonomi, bis ini terus mengambil semua penumpang yang menyetopnya. Begitu juga ia selalu berhenti di setiap Terminal yang dilewatinya. Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang. Untungnya bis sampai pada waktu yang tepat di Terminal Tegal, setengah tujuh malam. (Ngemil Rp 3.000)
19.30
Disini saya dan teguh berpisah dengan Bowo. Ia hendak naik bis menuju Pulogadung. Sementara Teguh yang menuju Lebak Bulus searah dengan saya hendak menuju Cileduk. Kamipun mengambil tempat duduk di bagian belakang bus AC Sinar Jaya (Rp 40.000) ini agar lebih leluasa berisitirahat. (Pop Mie Rp 6.000 + Aqua Rp 3.000 + Mie goreng Rp 2.000)
Selasa, 24 Januari 2012
03.30
Tiba di pool terakhir, Cileduk. Dengan menumpang angkot Rp 3.000 disambung jalan kaki 25 menit saya pun pulang menuju rumah.
04.05
Tiba di rumah dan istirahat.